Kendari – Universitas Muhammadiyah Kendari melalui Unit Problem-Based Learning (PBL) meluncurkan sebuah inisiatif penelitian inovatif yang bernama “Smart Aquaculture System” pada hari Kamis, 03 April 2026. Proyek riset ini merupakan kolaborasi intensif antara dosen-dosen berpengalaman dan mahasiswa dari berbagai program studi yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan industri perikanan budidaya di Sulawesi Tenggara.
Penelitian yang akan berlangsung selama dua tahun ini didukung penuh oleh pihak kampus dan telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Dengan mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT), artificial intelligence, dan sensor monitoring real-time, “Smart Aquaculture System” dirancang untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi para petani ikan lokal, mulai dari pemantauan kualitas air hingga prediksi penyakit ikan yang akurat.
Latar Belakang dan Urgensi Penelitian
Sulawesi Tenggara, khususnya Kendari sebagai ibu kota provinsi, memiliki potensi perikanan budidaya yang sangat besar mengingat letaknya yang strategis di wilayah pesisir. Namun, industri ini masih menghadapi berbagai kendala teknis dan manajemen yang menghambat pertumbuhan optimal. Data dari Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa tingkat kematian ikan budidaya masih mencapai 15-20 persen per siklus produksi, jauh lebih tinggi dari standar internasional yang hanya 5-8 persen.
“Permasalahan utama yang kami temukan di lapangan adalah keterbatasan pengetahuan petani ikan tentang monitoring kualitas air secara kontinyu, kurangnya sistem peringatan dini untuk deteksi penyakit, dan belum adanya integrasi teknologi dalam manajemen pakan yang efisien,” jelas Dr. Bambang Setiawan, Kepala Unit PBL Universitas Muhammadiyah Kendari, dalam konferensi pers peluncuran penelitian yang digelar di Auditorium Utama Kampus Kendari.
Mengacu pada permasalahan tersebut, tim riset yang terdiri dari 12 dosen dan 28 mahasiswa tingkat akhir memutuskan untuk mengembangkan sistem terintegrasi yang dapat diakses oleh petani ikan dengan biaya terjangkau. Solusi teknologi ini diharapkan menjadi game-changer dalam industri perikanan budidaya lokal dan menjadi model yang dapat direplikasi di daerah-daerah lain di Indonesia.
Desain dan Fitur Inovatif Smart Aquaculture System
Sistem yang dikembangkan oleh Unit PBL Universitas Muhammadiyah Kendari memiliki beberapa komponen utama yang terintegrasi dalam satu platform digital. Pertama adalah sensor IoT multi-parameter yang dapat mengukur suhu air, tingkat pH, dissolved oxygen (DO), kadar amonia, dan parameter kualitas air lainnya secara real-time. Sensor-sensor ini akan ditempatkan di berbagai lokasi dalam tambak untuk memberikan data yang komprehensif dan akurat.
Kedua, sistem ini dilengkapi dengan modul artificial intelligence yang telah dilatih menggunakan data historis dari ratusan tambak di Sulawesi Tenggara. Modul AI ini mampu menganalisis pola-pola kualitas air dan memberikan prediksi tentang risiko penyakit ikan sebelum gejala klinis muncul. Dengan cara ini, petani ikan dapat melakukan intervensi preventif secara tepat waktu.
Ketiga, platform digital “Smart Aquaculture System” dapat diakses melalui aplikasi mobile yang user-friendly dan dashboard web yang komprehensif. Petani ikan dapat memantau kondisi tambaknya dari mana saja dan kapan saja, menerima notifikasi real-time ketika ada parameter yang keluar dari batas normal, dan mendapatkan rekomendasi tindakan dari sistem yang berbasis pada best practices internasional.
“Kami juga mengintegrasikan fitur manajemen pakan otomatis yang dapat menyesuaikan jumlah pemberian pakan berdasarkan kondisi ikan dan parameter lingkungan. Ini akan meningkatkan efisiensi pakan hingga 20-25 persen dan mengurangi polusi dari sisa pakan yang tidak terkonsumsi,” tambah Dr. Setiawan.
Keempat, sistem ini dirancang dengan arsitektur cloud computing yang memungkinkan petani ikan lokal untuk menyimpan data mereka dengan aman sambil tetap dapat diakses oleh tim peneliti untuk keperluan monitoring dan analisis berkelanjutan. Data yang terkumpul akan menjadi valuable resource untuk penelitian lebih lanjut dan pengembangan rekomendasi yang lebih spesifik untuk kondisi lokal.
Peran Dosen dan Mahasiswa dalam Penelitian
Tim penelitian yang terbentuk untuk mengembangkan “Smart Aquaculture System” melibatkan dosen-dosen dari berbagai disiplin ilmu, mencerminkan pendekatan multidisipliner yang menjadi filosofi Unit PBL. Dr. Bambang Setiawan sebagai Kepala Unit PBL mengoordinasikan seluruh proyek, sementara Dr. Siti Nurhaliza dari Program Studi Teknik Informatika memimpin pengembangan platform digital dan modul AI.
Dr. Arif Rachman dari Program Studi Budidaya Perikanan bertanggung jawab terhadap aspek biologis dan manajemen kolam, termasuk kalibrasi parameter optimal untuk berbagai jenis ikan budidaya yang dikembangkan di wilayah Sulawesi Tenggara. Sementara itu, Ir. Hendra Kusuma dari Program Studi Teknik Elektro mengurus desain dan implementasi sistem sensor serta infrastruktur elektronik yang mendukung operasional sistem secara keseluruhan.
Berbeda dengan penelitian konvensional yang meminimalkan peran mahasiswa, Unit PBL Universitas Muhammadiyah Kendari justru menempatkan mahasiswa sebagai subjek utama dalam proses penelitian. Sebanyak 28 mahasiswa dari tingkat tiga dan empat berbagai program studi telah dibagi ke dalam empat tim kerja yang masing-masing memiliki tanggung jawab spesifik.
“Tim kami yang terdiri dari enam orang mahasiswa bertanggung jawab melakukan studi lapangan ke 15 lokasi tambak di sekitar Kendari dan Baubau untuk mengumpulkan data baseline kualitas air dan karakteristik teknis tambak. Data-data ini sangat penting untuk kalibrasi awal sistem kami,” jelas Ricky Hermawan, mahasiswa tingkat empat Program Studi Budidaya Perikanan yang menjadi koordinator tim lapangan.
Tim lain, yang dipimpin oleh Nabila Saphira dari Program Studi Teknik Informatika, fokus pada pengembangan algoritma machine learning yang dapat memprediksi outbreak penyakit dengan akurasi tinggi. “Kami telah menganalisis lebih dari 5000 data penyakit ikan dari literatur internasional dan data lokal untuk melatih model prediktif kami. Hasilnya, akurasi prediksi kami sudah mencapai 87 persen, dan target kami adalah 95 persen sebelum sistem ini diluncurkan untuk pasar komersial,” ujar Nabila dengan antusias.
Tim ketiga berfokus pada desain user interface dan user experience aplikasi mobile agar mudah digunakan oleh petani ikan yang tidak semuanya memiliki latar belakang teknologi tinggi. Sedangkan tim keempat ditugaskan untuk melakukan sosialisasi kepada kelompok petani ikan lokal dan mengumpulkan feedback untuk perbaikan sistem secara berkelanjutan.
Kolaborasi dan Dukungan Stakeholder
Kesuksesan penelitian ini tidak terlepas dari dukungan berbagai stakeholder yang terlibat langsung. Direktur Universitas Muhammadiyah Kendari, Prof. Dr. Soemanto, M.Pd., memberikan komitmen penuh terhadap alokasi anggaran riset dan fasilitasi yang diperlukan untuk menjalankan proyek selama dua tahun ke depan.
“Universitas Muhammadiyah Kendari berkomitmen untuk menjadi motor penggerak inovasi di Sulawesi Tenggara. Penelitian ‘Smart Aquaculture System’ adalah contoh nyata bagaimana universitas dapat berkontribusi langsung kepada masyarakat lokal melalui pengembangan teknologi yang praktis dan terjangkau,” ungkap Prof. Dr. Soemanto dalam sambutannya pada acara peluncuran.
Pihak Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Sulawesi Tenggara, yang diwakili oleh Kepala Dinas Ir. Maulana Malik Ibrahim, juga sangat mendukung inisiatif ini. “Kami melihat ini sebagai peluang emas untuk meningkatkan kompetensi dan produktivitas petani ikan lokal. Pemerintah provinsi siap memfasilitasi penyelenggaraan pelatihan dan workshop untuk sosialisasi teknologi ini kepada ribuan petani ikan di seluruh Sulawesi Tenggara,” jelas Ir. Maulana.
Selain itu, Asosiasi Pengusaha Muda Indonesia (APMI) cabang Kendari dan kelompok petani ikan lokal seperti Kelompok Tani Perikanan “Maju Bersama” dan “Usaha Mandiri” telah menandatangani memorandum of understanding (MOU) dengan Unit PBL untuk berpartisipasi aktif dalam fase testing dan pengembangan sistem. Komitmen ini memastikan bahwa sistem yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan praktis di lapangan.
Metodologi Penelitian dan Timeline Implementasi
Penelitian “Smart Aquaculture System” menggunakan pendekatan action research yang menggabungkan riset fundamental dengan implementasi praktis di lapangan. Fase pertama (April-Oktober 2026) difokuskan pada pengumpulan data, pengembangan prototype, dan testing awal di tiga lokasi pilot tambak yang telah disepakati.
Fase kedua (November 2026-September 2027) akan melibatkan optimisasi sistem berdasarkan feedback dari fase pertama, pelatihan intensif kepada petani ikan, dan ekspansi testing ke lima lokasi tambak tambahan. Fase terakhir (Oktober 2027-Maret 2028) adalah finalisasi sistem, penulisan publikasi ilmiah, dan persiapan komersial dengan melibatkan investor dan mitra industri yang tertarik.
“Timeline yang kami tetapkan sangat ketat namun realistis. Kami telah melakukan preliminary study selama enam bulan sebelumnya, jadi kami sudah siap untuk eksekusi penuh. Target kami adalah pada akhir 2028, sistem ini sudah dapat diakses oleh minimal 100 petani ikan di Sulawesi Tenggara,” terang Dr. Setiawan.
Dampak Ekspektasi dan Keberlanjutan
Jika penelitian ini berjalan sesuai dengan rencana, dampak yang diharapkan sangat signifikan bagi industri perikanan budidaya lokal. Secara ekonomi, peningkatan produktivitas ikan budidaya sebesar 25-30 persen dapat meningkatkan pendapatan petani ikan hingga 500 juta rupiah per tahun per tambak berukuran satu hektar. Dengan rata-rata ukuran tambak di Sulawesi Tenggara adalah 0,5-2 hektar, potensi peningkatan income ini sangat signifikan bagi kesejahteraan petani ikan dan keluarganya.
Secara lingkungan, pengurangan polusi dari limbah pakan yang tidak terkonsumsi dan optimalisasi kualitas air akan mengurangi dampak negatif perikanan budidaya terhadap ekosistem perairan pesisir Sulawesi Tenggara. Ini sejalan dengan komitmen Indonesia terhadap target sustainable development goals, khususnya SDG 14 tentang kehidupan laut yang berkelanjutan.
Secara akademis, penelitian ini akan menghasilkan minimal 15 publikasi ilmiah di jurnal nasional dan internasional, serta tiga skripsi mahasiswa tingkat sarjana dan dua tesis mahasiswa tingkat magister. Lebih penting lagi, model penelitian berbasis problem-based learning ini akan menjadi blueprint untuk penelitian-penelitian inovatif lainnya di Unit PBL Universitas Muhammadiyah Kendari.
“Sustainability model yang kami kembangkan adalah dengan membentuk koperasi digital yang akan mengelola sistem ini setelah masa penelitian berakhir. Petani ikan akan membayar biaya berlangganan yang sangat terjangkau, mulai dari 50 ribu rupiah per bulan untuk paket basic, dan revenue ini akan digunakan untuk maintenance dan continuous improvement sistem,” jelas Dr. Siti Nurhaliza, Kepala Tim Teknologi.
Pembelajaran dan Inovasi Berkelanjutan
Dr. Arif Rachman menambahkan bahwa penelitian ini juga membuka peluang untuk investigasi lebih lanjut di berbagai topik spesifik. “Kami berencana mengembangkan modul tambahan untuk optimalisasi pakan berdasarkan analisis nutrisi real-time, predictive maintenance untuk peralatan tambak, dan bahkan integration dengan e-commerce platform untuk direct selling hasil panen kepada konsumen akhir. Potensi inovasi lanjutan sangat besar,” katanya.
Unit PBL Universitas Muhammadiyah Kendari juga sudah mulai menerima inquiry dari universitas lain di Indonesia yang ingin mengadopsi model penelitian serupa dengan problem-based learning approach. Hal ini menunjukkan bahwa inisiatif Universitas Muhammadiyah Kendari tidak hanya membawa dampak lokal, tetapi juga menarik perhatian secara nasional.
Penutup
Peluncuran penelitian “Smart Aquaculture System” oleh Unit PBL Universitas Muhammadiyah Kendari pada 03 April 2026 menandai babak baru dalam upaya mengintegrasikan pendidikan tinggi dengan pemberdayaan masyarakat lokal. Dengan melibatkan dosen dan mahasiswa secara intensif dalam riset yang berorientasi pada solusi nyata, universitas ini membuktikan bahwa institusi pendidikan tidak hanya berperan sebagai transmitter of knowledge, tetapi juga sebagai innovation hub yang dapat berkontribusi langsung kepada pembangunan berkelanjutan di daerahnya.
Ke depannya, kesuksesan penelitian ini diharapkan dapat menginspirasi inisiatif-inisiatif serupa di institusi pendidikan lain di Indonesia, khususnya dalam mengoptimalkan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan sosial-ekonomi yang dihadapi masyarakat lokal. Bagi Sulawesi Tenggara khususnya, Smart Aquaculture System memiliki potensi untuk menjadi flagship innovation yang dapat meningkatkan daya saing industri perikanan budidaya