Kendari – Prestasi gemilang kembali diraih oleh Universitas Muhammadiyah Kendari, khususnya Unit Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL), setelah tiga mahasiswa berhasil meraih medali emas dalam ajang Kompetisi Inovasi Teknologi Internasional (KITI) 2026 yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand, pada 5-8 April 2026. Pencapaian luar biasa ini menandai komitmen kampus dalam mengembangkan ekosistem akademik yang mendorong kreativitas dan inovasi mahasiswa tingkat dunia.
Tim mahasiswa yang terdiri dari Luthfiyyah Ramadani (23 tahun) dari Program Studi Teknik Informatika, Arif Putra Pratama (22 tahun) dari Teknik Elektro, dan Siti Nurhaliza (23 tahun) dari Teknik Komputer, berhasil mengalahkan 47 tim dari 23 negara dengan menghadirkan inovasi bernama “SmartAgritech IoT: Sistem Manajemen Pertanian Cerdas Berbasis Internet of Things untuk Petani Kecil.”
Inovasi yang dikembangkan selama enam bulan ini menawarkan solusi teknologi terjangkau untuk meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia, khususnya di daerah Sulawesi Tenggara. Sistem terintegrasi tersebut memungkinkan petani skala kecil untuk memantau kondisi tanah, kelembaban, suhu, dan tingkat penyinaran matahari secara real-time melalui aplikasi mobile yang user-friendly.
“Kami sangat bangga dengan pencapaian ini,” ujar Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari, Prof. Dr. H. Muliadi, M.Ag., dalam konferensi pers di Gedung Rektorat, Selasa (11 April 2026). “Medali emas di ajang internasional ini membuktikan bahwa mahasiswa kita mampu bersaing di tingkat global. Ini adalah hasil dari sistem pembelajaran berbasis masalah yang kami terapkan, di mana mahasiswa didorong untuk mencari solusi praktis terhadap isu-isu nyata di masyarakat.”
Kepala Unit PBL Universitas Muhammadiyah Kendari, Dr. Ir. Hasnah Usman, M.Sc., mengungkapkan bahwa pencapaian ini tidak terlepas dari pendampingan intensif yang diberikan oleh dosen dan industri partner. “Tim kami memulai dari observasi lapangan ke petani-petani di Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan. Mereka melihat permasalahan nyata bagaimana petani kesulitan mendeteksi penyakit tanaman dan mengoptimalkan penggunaan air irigasi. Dari sini, ide SmartAgritech lahir,” jelas Dr. Hasnah dalam wawancara eksklusif.
Proses pengembangan inovasi ini dimulai sejak Oktober 2025 ketika ketiga mahasiswa terpilih mengikuti program akselerator inovasi yang difasilitasi oleh Universitas Muhammadiyah Kendari dan didukung oleh PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Sulawesi Tenggara sebagai mitra industri. Mereka mendapatkan mentoring dari praktisi teknologi, entrepreneur, dan pakar pertanian modern.
“Awalnya, kami hanya ingin membuat sesuatu yang bermanfaat untuk komunitas lokal. Tidak pernah terbayangkan akan sampai ke tingkat internasional,” ucap Luthfiyyah Ramadani, ketua tim, dengan senyuman lega. Mahasiswa tahun ketiga ini mengakui bahwa kompetisi internasional memberikan pengalaman berharga dalam presentasi, public speaking, dan networking dengan inovator global.
Arif Putra Pratama, yang menangani aspek teknis hardware sistem, menceritakan tantangan yang dihadapi timnya. “Kami harus membuat sensor yang tidak hanya akurat, tetapi juga tahan lama dan efisien energi karena akan digunakan di lapangan terbuka. Kami juga harus memastikan harganya terjangkau untuk petani kecil. Ini tantangan engineering yang sesungguhnya,” ungkap Arif dengan antusias.
Sementara itu, Siti Nurhaliza, yang mengembangkan aspek software dan user interface, menekankan pentingnya desain yang mudah digunakan. “Tidak semua petani itu tech-savvy. Jadi, kami membuat antarmuka yang sangat sederhana, cukup dengan beberapa tombol dan visual yang jelas. Kami juga menyediakan versi berbahasa lokal untuk memudahkan adoption di lapangan,” jelas Siti.
Dalam kompetisi di Bangkok tersebut, tim Universitas Muhammadiyah Kendari dinilai unggul dalam tiga kriteria utama: originalitas ide, feasibility (kelayakan implementasi), dan dampak sosial. Panel juri internasional yang terdiri dari akademisi dan entrepreneur terkemuka dari berbagai negara sangat terkesan dengan pendekatan holistik yang mengintegrasikan teknologi, ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.
“SmartAgritech bukan sekadar proyek kampus. Ini adalah solusi yang sudah diuji di lapangan dengan 15 petani di Sulawesi Tenggara dalam fase pilot. Hasilnya menunjukkan peningkatan produktivitas hingga 35 persen dan efisiensi penggunaan air hingga 40 persen,” papar Dr. Hasnah dengan data yang presisi.
Prestasi ini juga membawa Universitas Muhammadiyah Kendari ke peta inovasi Asia Tenggara. Universitas sudah menerima undangan untuk mempresentasikan SmartAgritech di berbagai forum internasional, termasuk Singapore Tech Summit 2026 dan ASEAN Innovation Conference yang akan digelar di Jakarta pada Oktober mendatang.
Ketua Senat Akademik Universitas Muhammadiyah Kendari, Prof. Dr. H. Salim Ridho, M.Hum., mengatakan bahwa prestasi mahasiswa ini menjadi motivasi bagi seluruh sivitas akademika. “Ini menunjukkan bahwa dari Kendari, dari kampus yang relatif muda, kita bisa melahirkan inovasi berkualitas dunia. Sekarang tanggung jawab kami adalah memastikan ada sistem yang berkelanjutan untuk terus menghasilkan inovasi-inovasi serupa,” ujarnya.
Unit PBL Universitas Muhammadiyah Kendari sendiri merupakan pusat pembelajaran yang berdiri sejak 2019 dengan fokus pada problem-based learning dan student-centered learning. Unit ini telah melahirkan berbagai inovasi dalam bidang teknologi pertanian, energi terbarukan, dan kesehatan masyarakat. Namun, medali emas di kompetisi internasional sebesar ini merupakan pencapaian tertinggi yang pernah diraih.
Direktur Kantor Urusan Akademik Universitas Muhammadiyah Kendari, Dr. Yusuf Marzukie, S.T., M.T., mengungkapkan rencana untuk memperluas program akselerator inovasi. “Tahun depan, kami menargetkan minimal lima tim mahasiswa untuk berkompetisi di berbagai kompetisi inovasi internasional. Kami juga sedang mempersiapkan funding mechanism yang lebih baik agar mahasiswa tidak terbebani biaya pengembangan inovasi mereka,” jelasnya.
Pemerintah Daerah Sulawesi Tenggara juga memberikan apresiasi melalui Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tenggara. Dalam sebuah pernyataan tertulis, dinas ini menyatakan bahwa inovasi SmartAgritech memiliki potensi besar untuk diterapkan di seluruh sektor pertanian lokal sebagai bagian dari program modernisasi pertanian Sulawesi Tenggara.
Menariknya, tim sudah mendapatkan interest dari beberapa investor untuk mengkomersialisasi produk ini. Mereka sedang dalam tahap diskusi untuk membentuk startup yang akan mengembangkan SmartAgritech menjadi produk yang dapat dijual di pasaran regional. Universitas Muhammadiyah Kendari telah menyiapkan inkubasi bisnis dan dukungan hukum melalui kantor hukum kampus untuk proses pendirian startup tersebut.
“Kami tidak hanya ingin mahasiswa kami jadi sarjana biasa. Kami ingin mereka jadi problem solver dan job creator. Medali emas ini adalah bukti bahwa tujuan itu tidak mustahil,” kata Prof. Dr. H. Muliadi kembali, dengan penuh keyakinan.
Pencapaian luar biasa ini diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Kendari lainnya untuk berani berinovasi dan berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Universitas telah mengumumkan bahwa akan diadakan public lecture dari tim pemenang dan mentor mereka untuk berbagi pengalaman kepada seluruh mahasiswa pada akhir bulan April 2026.
Dengan prestasi ini, Universitas Muhammadiyah Kendari membuktikan bahwa komitmen terhadap pembelajaran berbasis masalah dan dukungan ekosistem inovasi yang kuat dapat menghasilkan mahasiswa-mahasiswa berkelas dunia yang siap memberikan solusi untuk tantangan nyata di masyarakat, tidak hanya lokal tetapi juga global.
—
Penulis: [Nama Jurnalis Kampus]
Editor: [Nama Editor]
Kendari, 11 April 2026